Jumat, 30 Maret 2012

Bermalam di hutan


Boneka yang dibutuhkan: boneka tangan singa dan burung

Matahari mulai terbenam ketika Pak Reo sedang membereskan peralatan pancingnya. Singa jantan yang rajin itu telah menghabiskan waktu seharian dengan memancing di telaga yang terletak di tengah hutan. “Ikan ini begitu besar!, Reno, anakku pasti senang!” seru Pak Reo gembira. “Lihat Reno! Ayah dapat ikan besar!” teriak Bu Reo, yang sedang menggiring itik ke kandang. “Wow besar sekali ikannya!” teriak Reno kegirangan. Singa kecil itu memang suka sekali makan ikan. Ibu segera membawa ikan ke dapur untuk dimasak.


“Ah, andai aku juga bisa memancing ikan sendiri,”pikir Reno. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, Reno segera mengambil peralatan pancing ayahnya. “Kalau ayah bisa mendapat ikan besar, mengapa aku tidak?” kata Reno pada dirinya sendiri. Lalu ia pergi menuju telaga di hutan, walaupun belum tahu tempatnya. Di tengah perjalanan, Reno bertemu dengan Paman Kambing yang sedang asyik memetik mangga di pinggir jalan. “Hallo Reno, sore-sore mau pergi ke mana?” sapa Paman Kambing ramah. Tapi Reno hanya menundukkan kepala dan tidak menjawab sapaan Paman Kambing. “Huh, tidak sopan!” gerutu Paman Kambing kesal. “Disapa baik-baik, kok diam saja. Tersenyum pun tidak! Benar-benar keterlaluan!”


Hari semakin gelap. Tapi Reno terus berjalan. Yang dipikirkannya hanya ikan dan ikan. “Wow, pasti asyik kalau dapat mancing ikan yang lebih besar dari milik ayah,” pikir Reno. Sementara itu, kedua orangtua Reno belum mengetahui bahwa anaknya telah pergi meninggalkan rumah. “Reno di mana, Bu?” tanya pak Reo. Istrinya yang sedang memasak ikan terkejut. “Lho, bukankah tadi bersama Ayah?” Bu Reo balik bertanya. “Tidak,” jawab Pak Reno sambil menggelengkan kepala. “Aduh, di mana si Reno? Hari sudah malam, tidak seharusnya ia bermain di luar rumah.” Singa betina itu bingung memikirkan anak kesayangannya. “Sudahlah, Bu,” kata Pak Reo menenangkan. “Lebih baik kita segera mencarinya. Lagipula, Reno sudah besar. Nanti pasti pulang sendiri.”

Bagaimana nasib Reno? Kasihan anak singa itu tersesat di tengah hutan. Dia tidak tahu jalan ke arah telaga. “Letak telaga di mana sih?” pikir Reno bingung. “Aduh, sudah malam dan gelap lagi. Aku di mana sekarang?” Ternyata binatang malang itu kini berada di bagian hutan yang belum pernah dijelajahinya. Reno takut sekali. Dia mulai menyesali perbuatannya. “Ah, kalau saja aku tadi bertanya ke Paman Kambing, mungkin aku tak akan tersesat.”

Malam semakin larut. Yang terdengar hanya bunyi jangkrik yang bernyanyi di kesunyian malam. Reno semakin takut dan bingung. Kakinya terasa pegal. Dan perutnya keroncongan karena lapar. “Klepak! Klepak! Klepak!” tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap. Reno terkejut sekali. Dia mendongakkan kepalanya. Oh, ternyata ada seekor burung yang hinggap di atas pohon, tak jauh dari tempatnya berdiri. “Apakah kau bernama Reno, anak Pak Reo?” Tanya burung itu. “Sepertinya kita pernah bertemu kan?” Reno merasa lega, karena tak lagi sendirian di hutan. Singa kecil itu lalu menerangkan apa yang dialaminya. “Hmm, sebaiknya kau bermalam saja di hutan,” saran si burung. “Tapi jangan khawatir. Aku akan menemanimu tidur malam ini. Dan besok, kau pasti kuantar pulang.” Akhirnya anak singa itu tertidur di bawah pohon dengan beralas dedaunan.

Di rumah, Pak Reo dan istrinya masih bingung dimana harus mencari anak kesayangannya. Mereka telah mencari ke mana-mana tapi belum juga ketemu. “Bagaimana ini, Yah? Reno belum kembali,” kata Bu Reo dengan sedih. “Reno, pulanglah Nak. Ibu sayang padamu.” Pak Reo berusaha menenangkan istrinya.”Sudahlah, Bu. Kita tak mungkin mencari Reno saat gelap begini. Semoga besok Reno bisa pulang dengan selamat.”

Pak Reo menutup pintu dan jendela rumah, lalu keduanya berdoa bersama dan menunggu datangnya pagi dengan berbaring di depan perapian. Dalam tidurnya di tengah hutan, Reno bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Orang tua itu terlihat pintar dan bijaksana. “Reno cucuku,” suara kakek itu terdengar lembut. “Tahukah apa yang kau lakukan? Kau begitu egois, hanya memikirkan dirimu sendiri. Pertama, kau pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Kedua, kau tidak sopan karena tidak peduli pada binatang lain yang menyapamu. Dan ketiga, kau malu bertanya hingga tersesat di tengah hutan. Itu tidak baik, cucuku, kau harus mengubah sifat-sifatmu yang buruk itu.”

“Kukuruyuk! Kukuruyuk!” sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok. “Cicit cuwit…! Cicit cuwit…!” suara kicau burung saling bersahutan, menyambut datangnya pagi hari. Reno terbangun mendengar kicauan merdu itu. “Ah, nyenyak sekali tidurku,” kata Reno sambil meregangkan kaki dan badannya. “Tapi semalam aku mimpi bertemu dengan seorang kakek.” Singa kecil itu kembali berbaring sambil memikirkan mimpinya. “Hmm, apa yang dikatakan kakek itu memang benar,” kata Reno pada dirinya sendiri.

“Betapa buruknya kelakuanku. Aku egois, hanya memikirkan diri sendiri. Aku begitu ingin mendapatkan ikan besar, sampai melupakan segalanya. Aku harus mengubah sikapku yang jelek ini.”


“Selamat pagi, Reno,” sapa burung yang tidur di atas pohon. “Oh, selamat pagi, Burung,” sahut Reno terkejut. Reno segera bangkit berdiri. “Sudah siap untuk pulang? Ayo, kuantar kau pulang.” Burung yang baik hati itu terbang mengepakkan sayapnya. Reno berlari-lari mengikuti di bawahnya. Betapa senang hatinya! Beberapa ekor burung turut terbang mengikuti mereka. Binatang-binatang hutan yang melihat rombongan itu tertarik. Mereka lalu berlari mengikuti Reno dan teman-temannya.

“Itu rumahmu, Reno!” teriak si burung sambil menunjuk dengan sayapnya. Singa kecil itu berlari mendahului teman-temannya. Ternyata orangtua Reno sudah menunggu di depan rumah. “Oh, Reno anakku saying,” kata Bu Reo gembira sambil memeluk anaknya. “Maafkan Reno, Bu,” jawab Reno dengan nada menyesal. “Reno telah menyusahkan Ayah dan Ibu.” “Benar kan Bu omonganku. Anak kita pasti kembali!” kata Pak Reo gembira. “Hei kalian teman main Reno, ya? Ayo masuk dulu, kalian pasti lapar.” kata bu Reo. Sebagai tanda terimakasih, Bu Reo menjamu binatang-binatang itu dengan memasak makanan yang lezat.

Pesan moral : Janganlah bersikap egois dan tidak mempedulikan lingkungkan sekitar, karena akan merugikan diri kita sendiri.


http://www.balita-anda.com/dongeng-anak/753-bermalam-di-hutan.html

Jumat, 23 Maret 2012

Rakus




Ada seekor anjing yang sangat rakus. Anjing itu suka merebut makanan kawannya. Kalau anjing lain mendapat daging, dikerjarnya dan direbutnya daging itu.

Pada suatu hari anjing rakus itu merasa lapar sekali. Ia berlari kesana-kemari mencari makanan. Di dekat pasar si rakus mencuri sepotong daging. Daging itu digigitnya dan dibawa pulang.

Anjing itu berjalan melalui jembatan kecil di atas sungai. Air sungai itu sangat jernih. Anjing itu melihat ke bawah. Bayangannya tampak jelas.

Si rakus mengira ada anjing lain yang menggigit daging juga...dengan cepat ia melompat ke dalam air. Ia mau merebut daging itu.

Daging yang dimulutnya terlepas, dan hanyut dibawa air. Ternyata tidak ada anjing lain. Yang diserangnya itu hanya bayangannya sendiri. Si rakus basah kuyup. Dengan susah payah ia naik ke darat. Si rakus pulang dengan lesu. Perutnya makin lapar.




Greedy

There was a very greedy dog. This dog likes to take other dog's food. When it sees another dog was eating, it will chase and take the food from that dog.

One day the greedy dog was very hungry. The dog ran around looking for food. Near the marketplace, the greedy dog stole a piece of meat. The dog bit the meat and carried it home.

On its way home, the dog went through a small bridge over a creek. The water was very clear. The dog looked at the river below and saw clearly a dog's shadow on the water.

The greedy dog thought that there was another dog carrying a piece of meat...quickly the dog jumped into the water. The dog wanted to have the "other dog's" meat.

(In doing so) the dog lost the piece of meat from its mouth. The piece of meat was carried away by the river. There was no other dog. The one it had attacked was its own shadow. The greedy dog was soaking wet and with great difficulties reached the shore. The greedy dog went home sluggishly. Its stomach was getting even hungrier... 

Kucing yang terlupakan


  • Di sebuah perumahan, hiduplah seekor kucing berwarna hitam. Nama kucing itu Molly. Ia tinggal di rumah keluarga Jones. Molly selalu memburu dan memakan tikus-tikus yang suka mencuri makanan di dapur keluarga Jones.

    Molly memang seekor kucing yang lucu dan menggemaskan. Matanya berwarna hijau dan kumisnya panjang berwarna putih. Ia suka mendengkur dan sangat senang bila tubuhnya dibelai.

    Namun, tidak seorang pun di keluarga Jones suka membelai Molly. Kedua anak di keluarga Jones kurang menyukai binatang, sedang nyonya Jones sering membentak Molly jika ia mengeong waktu nyonya Jones sedang memasak ikan.

    Di samping rumah keluarga Jones, hiduplah seorang anak bernama Billy. Billy adalah anak yang baik dan sangat menyayangi binatang. Karena itu ia juga sangat menyayangi Molly. Setiap sore Molly melompat dari pagar keluarga Jones untuk mencari Billy dan minta dibelai.   “Alangkah senangnya aku jika Molly ini kucingku,” kata Billy kepada ibunya. “Aku ingin memelihara kucing juga, bu!” Tetapi ibu Billy tidak ingin memelihara binatang di rumahnya, walaupun sebenarnya ia juga suka kepada Molly. 
    Pada suatu hari kuarga Jones pergi ke luar kota. Saat hendak berangkat, anak-anak keluarga Jones berpamitan kepada Billy. Rupanya mereka hendak pergi berlibur selama sebulan.  
    Setelah memasukkan semua barang ke dalam taksi, keluarga Jones berangkat. “Molly pasti diajak juga,” pikir Billy. Namun ia keliru. Ia sangat terkejut saat melihat Molly masih ada di halaman rumah keluarga Jones. Billy lalu menceritakan hal itu kepada ibunya. “Pasti ada orang yang diberi tugas untuk merawat dan memberi makan Molly setiap hari,” kata ibu Billy.  

    Molly bertanya-tanya ke mana tuannya pergi. Setelah lama menunggu ia menggaruk-garuk pintu dapur dengan cakarnya berharap dibukakan pintu. Tetapi tampaknya tidak ada orang di dalam rumah. Molly lalu memeriksa kalau-kalau ada jendela yang terbuka sehingga ia bisa masuk, tapi ternyata semua jendela terkunci rapat.  
    Molly merasa kesepian. Tetapi ia berharap tuannya akan pulang nanti sore. 
    Tetapi setelah lama menunggu tuannya tidak juga pulang. Molly mulai merasa kelaparan. Ia juga kedinginan karena harus tidur di luar. Walaupun bersembunyi di dalam semak-semak, ia tetap basah karena kehujanan. Molly mulai sakit.  
    Dua hari telah berlalu. Karena kelaparan Molly memakan tulang kering yang ditemukannya dan juga daun-daun kering yang ada disekitar rumah. Penyakitnya juga semakin parah. Ia bersin-bersin dan lemas. 

    Pada hari keempat Molly sudah menjadi sangat kurus. Ia bahkan hampir tidak bisa berjalan karena sangat lemah. Ia lalu teringat kepada Billy, anak yang tinggal di rumah sebelah. Siapa tahu Billy bisa memberinya makanan. 
    Ia lalu berjalan pelan menuju rumah Billy. Saat melihat Molly, Billy hampir tidak mengenalinya lagi. “Astaga!, kaukah itu Molly?” seru Billy terkejut. Ia berlutut dan membelai Molly. “Oh kasihan, kau sangat kurus, pasti kau kelaparan. Apakah tidak ada orang yang diberi tugas untuk memberimu makan?”  
    Billy segera mengambilkan ikan dan susu untuk Molly. “Oh kasihan,” kata ibu Billy. Untuk sementara biar saja ia tidur di dapur kita.” 
    Molly sangat senang. Setelah makan dengan lahap, ia lalu tidur dengan nyenyak di dapur ibu Billy. Billy bahkan memberinya tempat tidur dari kotak kayu. Billy juga membersihkan badannya yang kotor karena beberapa hari tidur di semak-semak. 

    Malamnya, Molly benar-benar terkejut. Ternyata dapur ibu Billy banyak sekali tikusnya. Maka ia pun menangkap tikus-tikus itu, karena ia ingin membalas kebaikan Billy dan ibunya. 
    Keesokan harinya ibu Billy terkejut karena melihat banyak sekali tikus yang telah ditangkap oleh Molly. Ibu Billy sangat senang. Molly pun menjadi semakin disayang di keluarga itu.  
    Sebulan kemudian, keluarga Jones pulang dari berlibur. Dengan berat hari Billy mengantar Molly pulang ke rumah keluarga Jones. Tapi, setiap diantar pulang, Molly selalu melarikan diri dan kembali ke rumah Billy. Molly tahu bahwa Billy dan ibunya sangat menyayanginya, tidak seperti keluarga Jones yang tega menelantarkannya.  
    Karena keluarga Jones tidak terlalu memperdulikan Molly akhirnya mereka pun memberikan kucing itu kepada Billy. 
    Akhirnya Molly pun tinggal bersama Billy dan ibunya. Ia sangat bahagia karena selalu disayang dan dibelai. Ibu Billy pun senang karena dapurnya menjadi bebas dari gangguan tikus.



Sabtu, 03 Maret 2012

Katak dan anak sapi

Boneka tangan yang dibutuhkan. beberapa boneka jari kodok dan boneka tangan sapi
  • Di tengah padang rumput yang sangat luas, terdapat sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. Diantara katak-katak tersebut ada satu anak katak yang bernama Kenthus, dia adalah anak katak yang paling besar dan kuat. Karena kelebihannya itu, Kenthus menjadi sangat sombong. Dia merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.

    Sebenarnya kakak Kenthus sudah sering menasehati agar Kentus tidak bersikap sombong pada teman-temannya yang lain. Tetapi nasehat kakaknya tersebut tidak pernah dihiraukannya. Hal ini yang menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya, hingga Kenthus tidak mempunyai teman bermain lagi.

    Pada suatu pagi, Kenthus berlatih melompat di padang rumput. Ketika itu juga ada seekor anak sapi yang sedang bermain di situ. Sesekali, anak sapi itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. Anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali menyenggok rumput yang segar. Secara tidak sengaja, lidah anak sapi yang dijulurkan terkena tubuh si Kenthus.

    "Huh, berani makhluk ini mengusikku," kata Kenthus dengan perasaan marah sambil coba menjauhi anak sapiitu. Sebenarnya anak sapiitu pula tidak berniat untuk mengganggunya. Kebetulan pergerakannya sama dengan Kenthus sehingga menyebabkan Khentus menjadi cemas dan melompat dengan segera untuk menyelamatkan diri.

    Sambil terengah-engah, Kenthus sampai di tepi kolam. Melihat Kenthus yang kelihatan sangat capek, kawan-kawannya nampak sangat heran. "Hai Khentus, mengapa kamu terengah-engah, mukamu juga kelihatan sangat pucat sekali,” Tanya teman-temannya.

    "Tidak ada apa-apa. Aku hanya cemas saja. Lihatlah di tengah padang rumput itu. Aku tidak tahu makhluk apa itu, tetapi makhluk itu sangat sombong. Makhluk itu hendak menelan aku." Kata Kenthus..

    Kakaknya yang baru tiba di situ menjelaskan. " Makhluk itu anak sapi. sepengetahuan kakak, anak sapitidak jahat. Mereka memang biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap pagi."

    "Tidak jahat? Kenapa kakak bisa bilang seperti itu? Saya hampir-hampir ditelannya tadi," kata Kenthus. "Ah, tidak mungkin. sapitidak makan katak atau ikan tetapi hanya rumput." Jelas kakaknya lagi.

    "Saya tidak percaya kakak. Tadi, aku dikejarnnya dan hampir ditendang olehnya." Celah Kenthus. "Wahai kawan-kawan, aku sebenarnya bisa melawannya dengan mengembungkan diriku," Kata Kenthus dengan bangga.

    " Lawan saja Kenthus! Kamu tentu menang," teriak anak-anak katak beramai-ramai.

    "Sudahlah Kenthus. Kamu tidak akan dapat menandingi sapiitu. Perbuatan kamu berbahaya. Hentikan!" kata Kakak Kenthus berulang kali tetapi Kenthus tidak mempedulikan nasehat kakaknya. Kenthus terus mengembungkan dirinya, karena dorongan dari teman-temannya. Sebenarnya, mereka sengaja hendak memberi pelajaran pada Kenthus yang sombong itu.

    "Sedikit lagi Kenthus. Teruskan!" Begitulah yang diteriakkan oleh kawan-kawan Kenthus. Setelah perut Kenthus menggembung dengan sangat besar, tiba-tiba Kenthus jatuh lemas. Perutnya sangat sakit dan perlahan-lahan dikempiskannya. Melihat keadaan adiknya yang lemas, kakak Kenthus lalu membantu.

    Mujurlah Kenthus tidak apa-apa. Dia sembuh seperti sedia kala tetapi sikapnya telah banyak berubah. Dia malu dan kesal dengan sikapnya yang sombong.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...