Amalia adalah anak kedua dari
tiga bersaudara, dia mempunyai kakak bernama Feri dan adik bernama Sarah.
Amalia adalah anak yang ramah dan baik hati. Suatu hari kakek mereka datang berkunjung
membawa oleh-oleh untuk masing-masing cucunya.
Kakek : “ Nih , Kakek bawakan kalian celengan!” (sambil membawa
celengan berwarna merah, biru dan kuning)
Feri : “ Terimakasih Kek ….aku mau yang warna biru”
Amalia : “Terimakasih Kek, Lucu sekali bentuknya…seperti boneka beruang
adik mau yang warna apa?” (tanya Amalia ke Sarah)
Sarah : “Aku mau yang merah kak..Terimakasih Kakek”
Kakek : “Sudah waktunya kalian belajar menabung…biasakan menyisihkan
uang untuk dipergunakan bila ada keperluan yang penting nanti, kalian bisa
membiasakan menabung untuk membeli keperluan sekolah kalian atau yag lainnya”
Mereka bertiga sangat gembira
mempunyai celengan, sangat menyenangkan bila bisa memasukkan uang logam ke
lubang dan mendengar bunyinya jatuh kedalam. Kalau sudah penuh celengan itu
bisa dibuka bagian bawahnya setelah itu bisa dipakai lagi.
Kakek :” Nah beberapa minggu lagi Kakek akan datang dan mengajak kalian
ke Taman Hiburan. Cobalah kalian menabung sebanyak mungkin untuk bersuka ria di
sana. Kakek akan menambah celengan kalian sebanyak uang yang berhasil kalian kumpulkan
sebelum kita berangkat nanti. Tapi ingat…kalau kalian ingin mencoba permainan
di sana kalian mesti membayar dengan uang kalian sendiri. Kakek akan melihat
nanti, siapa di antara kalian yang paling rajin menabung!”
Ketiga bersaudara itu pun mulai giat
menabung. “ Kalau aku bisa menabung Rp 20.000
kakek akan menambah uangku dengan Rp 20.000 hingga akau bisa
menghabiskan Rp 40.000 di Taman hiburan!” kata Feri. Dengan rajin ia memasukkan
uang logamnya bila ada seseorang yang memberinya uang.
Amalia sudah menabung sebanyak Rp
5000. Tetapi , ia mendengar Lala teman sebangkunya di kelas sakit demam
berdarah dia sangat sedih. Maka, dibukanya celengannya dan dibelikannya kue
kesukaan Lala dan membawanya ketika menjenguknya. “Hmmm, aku suka sekali kue
ini, terimakasih Amalia kau sangat baik.” Kata Lala. Ibu Lala pun sangat senang
melihat Lala lahap makan kue pemberian Amalia.
“ Payah , Kau!” kata Feri ketika
tahu tabungan Amalia habis “ Mengumpulkan lagi Rp 5000 kan susah?”
Tapi sebentar saja celengan
Amalia sudah berisi Rp 5000. Bibi Sari datang dan memberi ketiga anak itu
masing-masing Rp 5000. Betapa senang hati Amalia celengannya berisi kembali.
Keesokan harinya Bu Guru
bercerita bahwa di desa Mamiri dekat Kotanya tinggal dilanda angin ribut
sehingga banyak penduduk desa yang rumahnya rusak sehingga banyak yang jatuh
sakit karena kedinginan di malam hari. Bu Guru menyuruh anak-anak membawa
sumbangan keesokan harinya . Keesokan harinya Amalia mengosongkan tabungannya
dan menyumbangkan semua untuk korban bencana di desa Mamiri. Dia tidak bisa
membayangkan jika mengalami hal seperti mereka tentu sangat menyedihkan tidur
di udara terbuka karena rumahnya rusak.
Amalia harus mulai menabung lagi
dan dia bertekat akan menabung semua uang jajannya. Dibandingkan dengannya
kedua saudaranya mempunyai tabungan lebih banyak. Feri selalu tak henti
menjuluki Amalia Payah karena mengorbankan tabungannya. Amalia tak pernah lagi
membeli kue atau permen ketika istirahat sekolah. Sungguh berat rasanya
menabung, tapi jika melihat tabungannya sekarang yang berisi Rp 5000 hatinya
agak terhibur.
Pada suatu ketika Nenek
terpelaset dan kakinya keseleo, sehingga nenek hanya bisa berbaring atau duduk
di kursinya. Semua cucunya sedih mendengar berita ini. “Kalau tidak disuruh
kakek menabung tentu nenek akan kubelikan bunga.” Kata Feri. “ Ya Kakek pasti
marah kalau kita menghabiskan tabungan kita” kata Sarah “ Ah , Nenek kan sudah
punya banyak bunga di kebunnya, nenek tidak perlu lagi dibelikan bunga” tambah
Feri.
Hanya Amalia yang diam , ia
sangat sayang pada nenek, ia membayangkan pasti membosankan tidak bisa pergi
kemana-mana, apalagi mengunjungi mereka seperti yang biasa dilakukan nenek
setiap minggu.” Nenek pasti suka jika diberi hadiah ketika sedang sakit, Aku
sendiri sangat senag jika ada orang yang
memberi hadiah sewaktu aku sakit” Pikir Amalia. Maka dia membuka celengannya
dan membeli buah Alpukat kesukaan Nenek. Nenek sangat gembira menerimanya,
dipeluknya Amalia “oh nona kecil yang baik hati, kau memang berhati mulia.”
Dua hari kemudian Kakek datang
mengajak mereka ke Taman hiburan. “Nah , Buka celengan kalian dan hitunglah,
aku akan menambahnya sesuai jumlah tabungan kalian.” Kata kakek. Feri mempunyai
Rp40.000 dan Sarah mempunyai Rp 20.000. Setelah Kakek memberi uang ke Feri dan
Sarah dia bertanya kepada Amalia berapa jumlah tabungannya, Amalia menjawab
dengan malu-malu “ Celenganku kosong Kakek” , “Maafkan aku Kakek, Aku tak pintar menabung.Ada-ada saja
yang terjadi hingga aku terpaksa membuka tabunganku. Aku aka tinggal di rumah
saja hari ini” Lalu Feri tanpa dimintapun menceritakan pada Kakek bagaimana
Amalia menghabiskan tabungannya untuk membelikan kue Lala dan menyumbang di
sekolah.
Kakek mengajak Amalia duduk di
pangkuannya dan berkata. “ Kau adalah seorang anak yang patut dicontoh oleh
anak-anak yang lain, sebab kau tahu bagaimana caranya menabung dan bagaimana
cara menggunakan dengan baik! Kakek juga tahu kau menghibur nenek yang sakit
dengan memberi hadiah dari tabunganmu”. Kedua saudaranya diam dan tertunduk
malu menyadari bahwa Amalia telah berbuat benar. “ Amalia , kakek bangga punya
cucu seperti kau! Menabung memang bagus- tapi lebih bagus lagi kalau tahu
bagaimana cara menggunakan tabungan dengan baik dan benar! Nah terimalah uang
Rp50.000 ini untukmu. Kau boleh menggunakan uang itu di Taman Hiburan nanti.
Kita berangkat yuk!” Maka berangkatlah ketiga anak itu bersama Kakek mereka.

