Jumat, 24 Februari 2012

Tabungan Amalia



Amalia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dia mempunyai kakak bernama Feri dan adik bernama Sarah. Amalia adalah anak yang ramah dan baik hati. Suatu hari kakek mereka datang berkunjung membawa oleh-oleh untuk masing-masing cucunya.
Kakek    : “ Nih , Kakek bawakan kalian celengan!” (sambil membawa celengan berwarna merah, biru dan kuning)
Feri        : “ Terimakasih Kek ….aku mau yang warna biru”
Amalia  : “Terimakasih Kek, Lucu sekali bentuknya…seperti boneka beruang adik mau yang warna apa?” (tanya Amalia ke Sarah)
Sarah     : “Aku mau yang merah kak..Terimakasih Kakek”
Kakek    : “Sudah waktunya kalian belajar menabung…biasakan menyisihkan uang untuk dipergunakan bila ada keperluan yang penting nanti, kalian bisa membiasakan menabung untuk membeli keperluan sekolah kalian atau yag lainnya”
Mereka bertiga sangat gembira mempunyai celengan, sangat menyenangkan bila bisa memasukkan uang logam ke lubang dan mendengar bunyinya jatuh kedalam. Kalau sudah penuh celengan itu bisa dibuka bagian bawahnya setelah itu bisa dipakai lagi.

Kakek    :” Nah beberapa minggu lagi Kakek akan datang dan mengajak kalian ke Taman Hiburan. Cobalah kalian menabung sebanyak mungkin untuk bersuka ria di sana. Kakek akan menambah celengan kalian sebanyak uang yang berhasil kalian kumpulkan sebelum kita berangkat nanti. Tapi ingat…kalau kalian ingin mencoba permainan di sana kalian mesti membayar dengan uang kalian sendiri. Kakek akan melihat nanti, siapa di antara kalian yang paling rajin menabung!”

Ketiga bersaudara itu pun mulai giat menabung. “ Kalau aku bisa menabung Rp 20.000  kakek akan menambah uangku dengan Rp 20.000 hingga akau bisa menghabiskan Rp 40.000 di Taman hiburan!” kata Feri. Dengan rajin ia memasukkan uang logamnya bila ada seseorang yang memberinya uang.
Amalia sudah menabung sebanyak Rp 5000. Tetapi , ia mendengar Lala teman sebangkunya di kelas sakit demam berdarah dia sangat sedih. Maka, dibukanya celengannya dan dibelikannya kue kesukaan Lala dan membawanya ketika menjenguknya. “Hmmm, aku suka sekali kue ini, terimakasih Amalia kau sangat baik.” Kata Lala. Ibu Lala pun sangat senang melihat Lala lahap makan kue pemberian Amalia.


“ Payah , Kau!” kata Feri ketika tahu tabungan Amalia habis “ Mengumpulkan lagi Rp 5000 kan susah?”
Tapi sebentar saja celengan Amalia sudah berisi Rp 5000. Bibi Sari datang dan memberi ketiga anak itu masing-masing Rp 5000. Betapa senang hati Amalia celengannya berisi kembali.
Keesokan harinya Bu Guru bercerita bahwa di desa Mamiri dekat Kotanya tinggal dilanda angin ribut sehingga banyak penduduk desa yang rumahnya rusak sehingga banyak yang jatuh sakit karena kedinginan di malam hari. Bu Guru menyuruh anak-anak membawa sumbangan keesokan harinya . Keesokan harinya Amalia mengosongkan tabungannya dan menyumbangkan semua untuk korban bencana di desa Mamiri. Dia tidak bisa membayangkan jika mengalami hal seperti mereka tentu sangat menyedihkan tidur di udara terbuka karena rumahnya rusak.

Amalia harus mulai menabung lagi dan dia bertekat akan menabung semua uang jajannya. Dibandingkan dengannya kedua saudaranya mempunyai tabungan lebih banyak. Feri selalu tak henti menjuluki Amalia Payah karena mengorbankan tabungannya. Amalia tak pernah lagi membeli kue atau permen ketika istirahat sekolah. Sungguh berat rasanya menabung, tapi jika melihat tabungannya sekarang yang berisi Rp 5000 hatinya agak terhibur.

Pada suatu ketika Nenek terpelaset dan kakinya keseleo, sehingga nenek hanya bisa berbaring atau duduk di kursinya. Semua cucunya sedih mendengar berita ini. “Kalau tidak disuruh kakek menabung tentu nenek akan kubelikan bunga.” Kata Feri. “ Ya Kakek pasti marah kalau kita menghabiskan tabungan kita” kata Sarah “ Ah , Nenek kan sudah punya banyak bunga di kebunnya, nenek tidak perlu lagi dibelikan bunga” tambah Feri.

Hanya Amalia yang diam , ia sangat sayang pada nenek, ia membayangkan pasti membosankan tidak bisa pergi kemana-mana, apalagi mengunjungi mereka seperti yang biasa dilakukan nenek setiap minggu.” Nenek pasti suka jika diberi hadiah ketika sedang sakit, Aku sendiri sangat senag jika  ada orang yang memberi hadiah sewaktu aku sakit” Pikir Amalia. Maka dia membuka celengannya dan membeli buah Alpukat kesukaan Nenek. Nenek sangat gembira menerimanya, dipeluknya Amalia “oh nona kecil yang baik hati, kau memang berhati mulia.”

Dua hari kemudian Kakek datang mengajak mereka ke Taman hiburan. “Nah , Buka celengan kalian dan hitunglah, aku akan menambahnya sesuai jumlah tabungan kalian.” Kata kakek. Feri mempunyai Rp40.000 dan Sarah mempunyai Rp 20.000. Setelah Kakek memberi uang ke Feri dan Sarah dia bertanya kepada Amalia berapa jumlah tabungannya, Amalia menjawab dengan malu-malu “ Celenganku kosong Kakek” , “Maafkan aku  Kakek, Aku tak pintar menabung.Ada-ada saja yang terjadi hingga aku terpaksa membuka tabunganku. Aku aka tinggal di rumah saja hari ini” Lalu Feri tanpa dimintapun menceritakan pada Kakek bagaimana Amalia menghabiskan tabungannya untuk membelikan kue Lala dan menyumbang di sekolah.

Kakek mengajak Amalia duduk di pangkuannya dan berkata. “ Kau adalah seorang anak yang patut dicontoh oleh anak-anak yang lain, sebab kau tahu bagaimana caranya menabung dan bagaimana cara menggunakan dengan baik! Kakek juga tahu kau menghibur nenek yang sakit dengan memberi hadiah dari tabunganmu”. Kedua saudaranya diam dan tertunduk malu menyadari bahwa Amalia telah berbuat benar. “ Amalia , kakek bangga punya cucu seperti kau! Menabung memang bagus- tapi lebih bagus lagi kalau tahu bagaimana cara menggunakan tabungan dengan baik dan benar! Nah terimalah uang Rp50.000 ini untukmu. Kau boleh menggunakan uang itu di Taman Hiburan nanti. Kita berangkat yuk!” Maka berangkatlah ketiga anak itu bersama Kakek mereka.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...